Benar sekali apa yang diucapkan oleh Pak Wahyono, seorang purnawirawan perwira tinggi angkatan laut berbintang dua yang juga memiliki gelar Phd.,
“Untuk menulis itu, tidak tergantung kepada apakah perwira itu orang lapangan atau orang kantoran, akan tetapi akan sangat bergantung pada apakah kepala seseorang itu ada isinya atau tidak. Kalau kepala nya tidak ada isinya terus apa yang akan ditulisnya?”
Saya merasa bahwa siapapun orangnya, dia pasti bisa menulis. Apapun pekerjaannya dia pun bisa membuat tulisan. Karena setiap orang yang pernah merasakan sekolah, insya Allah bisa menulis. Jadi sebetulnya tidak alasan untuk malas menulis. Dan setiap orang pun pasti telah dijejali oleh berbagai pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan di dalam dirinya. Oleh karena itu, bahan yang akan ditulis pun sudah ada. Hanya kemudian adalah apakah saya, teman-teman, dan semuanya mau untuk menulis ?
Menulis itu sangat bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Dengan menulis dia bisa mengungkapkan perasaannya, mengekspresikan apa yang di dalam pikirannya, serta mengeluarkan ide atau gagasan yang telah bersemayan di otaknya. Dengan tulisannya itu sendiri, dia dapat memperbaiki dirinya. Sesaat dia melihat hasil tulisannya dan membaca kembali, dia akan mengetahui bahwa apakah dirinya telah sesuai dengan yang dituliskannya. Dalam tahap ini dia akan dapat melihat keadaan dirinya. Tulisan kita bisa menjadi cermin bagi diri kita. Kita bisa melihat diri kita berada di dalam tulisan kita.
Akan tetapi untuk dapat menulis dengan lebih baik, maka kita perlu latihan, latihan, dan latihan. Menulis harus
dijadikan suatu kebiasaan. Selain latihan, kita perlu untuk senantiasa meng-update isi kepala kita, yaitu dengan belajar. Dan salah satu bentuk belajar itu adalah dengan membaca. Ya, dengan membacalah diri kita akan semakin diperkaya oleh kata-kata yang bergizi (istilah Pak Hernowo). Dengan membacalah ilmu kita akan semakin bertambah. Dan dengan membaca diri kita akan semakin rendah hati. Sesuai sekali dengan ayat yang pertama kali turun dalam Al-Quran, yaitu IQRA ! membacalah !
Saya rasa sangat pas sekali dengan apa yang sedang saya alami saat ini. Saat sekarang saya sedang musim UAS, tentu saya harus belajar dengan banyak membaca dan latihan. Jika saya ingin bisa menuliskan jawaban UAS dengan baik dan benar, maka saya harus baca materinya dan aplikasikan dalam latihan soal.
Selain untuk UAS, saya rasa hal ini akan sangat pas bagi para mahasiswa yang akan membuat laporan atau makalah atau sedang mempersiapkan tugas akhir. Tentu, dalam proses penyusunannya, kita akan membutuhkan dasar teori untuk dapat menyelesaikan laporan kita. Dan untuk mendapatkan dasar teori ini kita harus membaca dulu. Tentu, tidak hanya sekedar copy-paste saja dari master (tapi gapapa sih). Tapi sepertinya untuk tugas akhir, kita harus benar-benar banyak membaca, karena tentu kita harus dapat mengerti dengan baik permasalahan yang dipecahkan dalam tugas akhir kita.
Ya, untuk saya dan teman-teman semua, marilah kita mulai untuk senang membaca, walaupun untuk textbook kuliah agak berat, kenapa kita tidak mencoba untuk ngemil kayak makanan, sedikit-sedikit makannya. Maka untuk membaca juga seperti itu saja, sedikit saja, cukup satu halaman yang kita baca /hari, semoga akan semakin memperkaya diri kita..
Oya, jangan lupa untuk menyebut nama Tuhan kita ya sebelum membaca,,
Iqra bismirabbika lladzii khalaq.. .(bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan) –Al-Alaq, 96:1
-Yuamar Imarrazan Basarah-
150 06 059
Filed under: syiar | Tagged: Iqra, membaca, menulis | Leave a Comment »